Ketika Sektor UMKM Menopang Perekonomian Indonesia

Abil Khalik Syabani dan Achmad Sultan Fadhil (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Redaksi
8 Min Read

Promo UKM | Bayangkan sebuah kapal besar yang melintasi lautan. Dari jauh, yang terlihat menonjol yaitubadan kapal yang kokoh dan mesin utamanya yang bertenaga besar. Tapi coba tanya kepadasiapa pun yang paham perkapalan: kapal itu tetap mengapung dan melaju berkat ribuankomponen kecil baut, katup, pelat penyambung yang bekerja diam-diam dalam menopangkeseluruhan struktur rangkaian kapal. Begitulah kira-kira apa yang ada didalam perekonomian Indonesia. Perusahaan-perusahaan besar memang sangat mengambil perhatianpublik dengan gedung pencakar langit dan laporan keuangan yang besar hingga triliunanrupiah. Namun yang sesungguhnya menahan ekonomi negeri ini agar tidak ambruk, justruwarung kelontong di ujung gang, usaha catering rumahan, bengkel motor sederhana, hinggapenjahit yang membuka jasa dari teras rumah. Mereka adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang biasa kita panggil dengan sebutan UMKM.

Data dari Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai sekitar 65 juta unit usaha, atau kurang lebih 99 persen dari total badan usaha yang ada di negara ini. Dari jumlah sebesar itu, sektor ini berkontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97 persentenaga kerja Indonesia. Angka-angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas iamenggambarkan realitas bahwa sebagian besar dari kita, entah sebagai konsumen ataupekerja, hidup berdampingan dengan ekonomi UMKM setiap hari tanpa benar-benarmenyadarinya.

Lantas, mengapa sektor yang kita kira tampak “kecil” ini justru memiliki peran sebesar itu? Mari kita bedah atau kulik dari beberapa sisi.

UMKM sebagai Jaring Pengaman Sosial

Salah satu keunikan UMKM adalah sifatnya yang lentur, seperti jaring laba-laba yang mampu melebar tanpa putus saat dihantam angin kencang. Ketika krisis ekonomi 1998 dan 2008 menghantam Indonesia, banyak perusahaan besar yang justru bingung karenabergantung pada modal asing dan utang dalam mata uang dolar. Sebaliknya, UMKM yang umumnya bermodal kecil dan berorientasi pasar domestik justru relatif lebih tahan banting. Fenomena serupa terlihat saat pandemi Covid-19: meski banyak UMKM yang terpuruk di awal, sektor ini pula yang paling cepat beradaptasi dalam promosi lewat marketplace, memanfaatkan layanan antar makanan daring, atau beralih memproduksi masker dan hand sanitizer.

Analoginya sederhana: perusahaan besar seperti pohon tinggi yang kuat tapi mudah tumbangsaat badai besar karena akarnya terpusat. UMKM lebih mirip rerumputan yang tumbuhmenyebar ketika satu bagian layu, bagian lain tetap tumbuh, menjaga ekosistem tetap hijausecara keseluruhan.

Mesin Penyerap Tenaga Kerja Terbesar

Bicara soal lapangan kerja, UMKM adalah juara tanpa tanding. Bayangkan sebuah kotadengan satu pabrik raksasa yang mempekerjakan lima ribu orang, dibandingkan denganseribu toko kecil yang masing-masing mempekerjakan lima orang. Secara matematis, jumlahtenaga kerja yang terserap sama besar. Tapi bedanya, ribuan toko kecil itu tersebar di berbagai sudut kota menjangkau ibu rumah tangga yang ingin bekerja paruh waktu, lulusanSMA yang belum siap bersaing di korporasi besar, hingga pensiunan yang ingin tetapproduktif.

Karena sifatnya yang padat karya dan tersebar merata, UMKM berfungsi seperti akar serabutpada tanaman: tidak menghujam dalam di satu titik, tetapi menjangkau luas ke segala arah, menopang tanah (baca: masyarakat) agar tidak mudah longsor akibat pengangguran massal. Inilah sebabnya pemerintah kerap menjadikan UMKM sebagai andalan utama dalam program pengentasan kemiskinan dan pemerataan ekonomi antar daerah.

Inkubator Inovasi dan Kreativitas Lokal

Ada anggapan keliru bahwa inovasi hanya lahir dari laboratorium riset perusahaanmultinasional dengan anggaran miliaran rupiah. Padahal, banyak UMKM justru menjadilaboratorium inovasi dari kebutuhan sehari-hari. Seorang pengusaha keripik rumahan yang mengembangkan varian rasa unik, atau pengrajin batik yang memadukan motif tradisionaldengan desain kontemporer untuk pasar ekspor, adalah bentuk inovasi yang lahir dari kejelianmembaca pasar, bukan dari riset bertahun-tahun di ruang ber-AC.

UMKM dalam konteks ini seperti dapur rumahan dibandingkan restoran bintang lima. Restoran bintang lima punya koki bersertifikat dan peralatan canggih, tapi dapur rumahanjustru sering melahirkan resep-resep kreatif hasil eksperimen coba-coba yang kemudianmenjadi tren sambal khas daerah yang viral di media sosial, misalnya, atau kopi susu kekinian yang kini menjamur di berbagai kota. Fleksibilitas UMKM dalam bereksperimentanpa birokrasi rumit inilah yang membuat sektor ini menjadi ladang subur bagi lahirnya ide-ide segar.

Tantangan yang Masih Membayangi

Tentu saja, peran besar UMKM bukan tanpa catatan. Ibarat mesin tua yang masih setiabekerja keras tapi jarang mendapat perawatan berkala, banyak UMKM di Indonesia masihterkendala akses permodalan, minimnya literasi digital, dan sulitnya menembus pasar yang lebih luas termasuk pasar ekspor. Tidak sedikit pelaku usaha kecil yang terjebak pada skala“jalan di tempat” karena kesulitan naik kelas dari usaha mikro menjadi usaha kecil, lalu keusaha menengah.

Pemerintah sebenarnya telah meluncurkan berbagai program dukungan, mulai dari KreditUsaha Rakyat (KUR), pelatihan digitalisasi pemasaran, hingga gerakan Bangga BuatanIndonesia yang mendorong konsumen membeli produk lokal. Namun, program-program iniibarat pupuk yang ditabur di lahan luas dampaknya baru terasa maksimal jika distribusinyamerata dan pengelolaannya konsisten, bukan sekadar seremonial tahunan.

Kekuatan yang Tak Boleh Dipandang Sebelah Mata

Pada akhirnya, kisah UMKM adalah kisah tentang kekuatan yang lahir dari jumlah, bukandari ukuran. Sebagaimana kumpulan semut kecil yang mampu memindahkan beban jauhlebih besar dari tubuh mereka sendiri melalui kerja sama dan jumlah yang masif, UMKM Indonesia membuktikan bahwa ekonomi sebuah bangsa tidak selalu ditentukan oleh segelintirraksasa korporasi, melainkan oleh jutaan usaha kecil yang bergerak serentak dalam satu arahyang sama.

Bagi mahasiswa Manajemen, memahami dinamika UMKM dalam Perekonomian di era sekarang bukan sekadar materi kuliah yang berhenti di atas kertas. Ini adalah pengingatbahwa strategi bisnis, manajemen keuangan, dan pemasaran yang kita pelajari di ruang kelassesungguhnya memiliki medan uji yang nyata dan mendesak di warung-warung kecil sekitarkita. Sebab, ketika UMKM tumbuh kuat, bukan hanya angka PDB yang naik melainkan juga martabat jutaan keluarga Indonesia yang menggantungkan hidup dari usaha kecil mereka.

Daftar Pustaka

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. (2021). UMKM Menjadi Pilar Penting dalam Perekonomian Indonesia. Diakses darihttps://ekon.go.id/unduh/publikasi/2969/umkm-menjadi-pilar-penting-dalam-perekonomian-indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia. (2024). Data Perkembangan Jumlah UMKM dan Kontribusinya terhadap PDB Nasional.

Republika.co.id. (2024, 12 September). Satu Dekade, UMKM Sumbang 60 Persen PDB. Diakses dari https://ekonomi.republika.co.id/berita/sjoaye423/satu-dekade-umkm-sumbang-60-persen-pdb

Republika.co.id. (2021, 18 Maret). 2024, Kontribusi KUMKM pada PDB Diproyeksikan Jadi 65 Persen. Diakses dari https://ekonomi.republika.co.id/berita/qq5umm370/2024-kontribusi-kumkm-pada-pdb-diproyeksikan-jadi-65-persen

Share This Article
Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *