Cara Kreatif Mengurangi Sampah Plastik dengan Sistem Hidroponik dari Botol Bekas

Ahmad Rakib Radian dan Zahara (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Redaksi
15 Min Read

Promo UKM | Sampah plastik merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang sulit diatasi karena membutuhkan waktu yang lama untuk terurai. Salah satu jenis sampah plastik yang banyak ditemukan di lingkungan masyarakat adalah botol plastik bekas. Pemanfaatan kembali botol plastik menjadi media hidroponik merupakan salah satu cara kreatif untuk mengurangi limbah sekaligus menghasilkan manfaat dalam bidang pertanian. Artikel ini bertujuan membahas pemanfaatan botol plastik bekas sebagai wadah budidaya tanaman hidroponik, khususnya menggunakan sistem sumbu (wick system), serta melihat manfaatnya terhadap lingkungan, masyarakat, dan peluang ekonomi. Berdasarkan beberapa jurnal yang dikaji, hidroponik dengan botol bekas dapat diterapkan pada lahan terbatas, membutuhkan biaya relatif rendah, dan menggunakan bahan yang mudah diperoleh. Sistem sumbu juga tidak memerlukan pompa maupun listrik sehingga relatif sederhana untuk diterapkan. Selain berfungsi sebagai upaya pemanfaatan kembali sampah plastik, kegiatan hidroponik dapat meningkatkan pengetahuan dan kreativitas masyarakat serta membuka peluang untuk menghasilkan sayuran yang dapat dikonsumsi maupun memiliki nilai jual. Dengan demikian, pemanfaatan botol plastik bekas melalui hidroponik dapat menjadi salah satu bentuk pertanian sederhana yang mendukung pengelolaan sampah dan keberlanjutan lingkungan.

Kata kunci: sampah plastik, botol bekas, hidroponik, wick system, pertanian berkelanjutan.

I. PENDAHULUAN

Manajemen menjelaskan bahwa hidroponik dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang mempunyai lahan atau teras terbatas.

Salah satu bentuk hidroponik yang sederhana adalah sistem sumbu (wick system).Sistem ini memanfaatkan sumbu, misalnya kain flanel, untuk menyalurkan air bernutrisi dari tempat penampungan menuju media tanam. Sistem Permasalahan sampah plastik menjadi salah satu persoalan lingkungan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sampah plastik, termasuk botol plastik sekali pakai, sulit terurai secara alami sehingga apabila tidak dikelola

dengan baik dapat mencemari lingkungan. Jurnal Manfaat menjelaskan bahwa sampah plastik dapat mencemari air, tanah, dan ekosistem perairan sehingga diperlukan upaya pemanfaatan kembali yang lebih inovatif.

Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah mengubah botol plastik bekas menjadi wadah untuk budidaya tanaman hidroponik.

Hidroponik merupakan teknik budidaya tanaman yang menggunakan air sebagai media penyalur nutrisi tanpa menggunakan tanah. Teknik ini dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan karena dapat dilakukan di pekarangan rumah maupun ruang yang relatif sempit. Jurnal Jurnal Abdimas Tridharma tersebut tidak membutuhkan pompa atau listrik sehingga bahan dan biaya pembuatannya relatif sederhana.

Pemanfaatan botol plastik bekas dalam sistem hidroponik memiliki dua manfaat sekaligus. Pertama, botol yang sebelumnya menjadi limbah dapat digunakan kembali sehingga jumlah sampah yang dibuang dapat dikurangi. Kedua, botol tersebut dapat dimanfaatkan sebagai wadah untuk menghasilkan tanaman sayuran. Kegiatan pemanfaatan botol bekas juga dapat meningkatkan kreativitas masyarakat dalam mengelola limbah.

Berdasarkan kondisi tersebut, pemanfaatan botol plastik bekas sebagai media hidroponik dapat dipandang sebagai cara kreatif untuk menghubungkan pengelolaan sampah dengan kegiatan pertanian yang sederhana dan berkelanjutan.

II. METODE PENELITIAN

Artikel ini disusun berdasarkan kajian terhadap beberapa jurnal yang membahas pemanfaatan botol plastik bekas sebagai media hidroponik, penerapan hidroponik sistem sumbu, serta potensi hidroponik sebagai kegiatan ramah lingkungan dan kewirausahaan.

Sumber utama yang digunakan antara lain artikel mengenai penyuluhan hidroponik wick system menggunakan botol plastik bekas di Desa Ngawu, artikel mengenai pemanfaatan botol plastik bekas sebagai media tanaman sayur hidroponik, artikel mengenai potensi kewirausahaan ramah lingkungan dari budidaya hidroponik, serta artikel mengenai penggunaan botol plastik bekas sebagai wadah sistem hidroponik untuk budidaya sayuran.

Kajian dilakukan dengan membandingkan tujuan, metode, hasil, manfaat, serta penerapan hidroponik dari masing-masing sumber. Selanjutnya, informasi yang memiliki keterkaitan disusun menjadi pembahasan mengenai pemanfaatan botol plastik bekas sebagai media hidroponik.

III. PEMBAHASAN

3.1 Sampah Plastik sebagai Permasalahan Lingkungan

Botol plastik bekas merupakan salah satu jenis sampah anorganik yang banyak ditemukan di lingkungan. Jurnal yang membahas pemanfaatan botol plastik sebagai media hidroponik menjelaskan bahwa botol plastik sering dianggap sebagai barang yang tidak berguna setelah digunakan, padahal masih dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, salah satunya sebagai media tanam. Pemanfaatan tersebut juga dapat membantu mengurangi pencemaran dan meningkatkan keindahan lingkungan.

Jurnal Manfaat juga menjelaskan bahwa penggunaan kembali botol plastik menjadi media tanam hidroponik merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi sampah plastik. Kegiatan tersebut sekaligus dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat agar lebih kreatif dalam mengelola limbah.

Dengan demikian, botol plastik tidak selalu harus dipandang sebagai barang yang langsung dibuang. Melalui pendekatan reuse atau penggunaan kembali, botol bekas dapat diberikan fungsi baru sebagai wadah tanaman.

3.2 Hidroponik sebagai Alternatif Budidaya Tanaman

Hidroponik adalah metode bercocok tanam yang menggunakan air dengan kandungan nutrisi sebagai media pertumbuhan tanaman dan tidak menggunakan tanah. Dalam penerapannya, hidroponik memiliki sejumlah keuntungan, seperti dapat dilakukan pada lahan terbatas, penggunaan air dan pupuk yang lebih hemat, serta pertumbuhan tanaman yang relatif cepat.

Hidroponik juga sesuai untuk konsep pertanian perkotaan (urban farming) karena tidak membutuhkan lahan pertanian yang luas. Jurnal Manfaat menjelaskan bahwa semakin terbatasnya lahan pertanian membuat hidroponik dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin bercocok tanam di area yang tidak luas. Hal tersebut membuat hidroponik dapat diterapkan di lingkungan rumah, sekolah, maupun masyarakat dengan memanfaatkan ruang yang tersedia.

3.3 Hidroponik Sistem Sumbu (Wick System)

Salah satu metode hidroponik yang mudah diterapkan adalah sistem sumbu. Sistem ini bekerja berdasarkan prinsip kapilaritas. Sumbu yang terbuat dari bahan yang mampu menyerap air, seperti kain flanel, menjadi penghubung antara larutan nutrisi dan akar tanaman. Dengan demikian, nutrisi dapat disalurkan menuju tanaman tanpa akar harus bersentuhan langsung dengan seluruh air nutrisi.

Sistem sumbu memiliki beberapa kelebihan. Berdasarkan jurnal yang dikaji, metode ini relatif murah dan sederhana, tidak membutuhkan listrik atau pompa air, fleksibel untuk dipindahkan, dan dapat menggunakan bahan daur ulang. Namun, sistem ini tetap membutuhkan pengawasan terhadap kondisi air, kebersihan wadah, dan nutrisi agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Beberapa tanaman yang dapat dibudidayakan dengan sistem sumbu antara lain sawi, selada, pakcoy, selada merah, bayam, dan kangkung.

3.4 Pemanfaatan Botol Plastik Bekas sebagai Wadah Hidroponik

Penggunaan botol plastik bekas sebagai wadah hidroponik menjadi salah satu bentuk kreativitas dalam memanfaatkan barang yang sudah tidak digunakan. Dalam kegiatan yang dilakukan di RW 05 Jomblang, Semarang, masyarakat diperkenalkan dengan teknik hidroponik menggunakan botol plastik bekas. Alat dan bahan yang digunakan relatif sederhana, antara lain botol plastik bekas, kain flanel, rockwool, baskom, tray semai, benih tanaman, dan nutrisi AB Mix.

Pada kegiatan lain di masyarakat, bahan yang digunakan juga mencakup botol plastik bekas sebagai wadah, rockwool sebagai media penyemaian, kain flanel sebagai perantara nutrisi, benih sayuran seperti kangkung, selada, dan pakcoy, serta nutrisi AB Mix. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan, tetapi juga mempraktikkan langsung pembuatan hidroponik menggunakan botol bekas.

Hal tersebut menunjukkan bahwa penerapan hidroponik dengan botol bekas tidak membutuhkan peralatan yang rumit. Bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan sehingga kegiatan ini dapat diterapkan oleh masyarakat secara lebih sederhana.

3.5 Cara Membuat Hidroponik dari Botol Bekas

Secara umum, pembuatan hidroponik sistem sumbu dari botol bekas dapat dilakukan melalui beberapa tahap.

Pertama, menyiapkan alat dan bahan:

Botol plastik bekas disiapkan sebagai wadah, kemudian disediakan kain flanel sebagai sumbu, rockwool sebagai media penyemaian, benih sayuran, air, serta nutrisi hidroponik. Jurnal yang dikaji menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut relatif mudah diperoleh.

Kedua, menyiapkan botol plastic:

Botol bekas dibersihkan kemudian dipotong atau dimodifikasi sehingga bagian botol dapat digunakan sebagai tempat tanaman dan tempat larutan nutrisi. Dalam penerapan wick system, botol bekas digunakan sebagai media yang dapat menyimpan air dan nutrisi.

Ketiga, memasang kain flanel sebagai sumbu:

Kain flanel berfungsi menyalurkan larutan nutrisi menuju media tanam berdasarkan prinsip kapilaritas. Penggunaan kain flanel juga disebutkan dalam kegiatan pelatihan hidroponik yang menggunakan botol bekas.

Keempat, menyiapkan bibit tanaman:

Benih dapat disemai menggunakan rockwool. Beberapa jenis sayuran yang digunakan dalam kegiatan yang dilaporkan jurnal antara lain kangkung, selada, dan pakcoy.

Kelima, memberikan larutan nutrisi:

Air yang digunakan dalam sistem hidroponik perlu diberikan nutrisi yang sesuai sehingga tanaman memperoleh unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Dalam kegiatan yang dikaji, salah satu nutrisi yang digunakan adalah AB Mix.

Keenam, melakukan perawatan:

Tanaman perlu diperiksa secara rutin, terutama kondisi air nutrisi, kebersihan wadah, media tanam, dan pertumbuhan tanaman. Pada wick system, pengecekan air dan kebersihan wadah menjadi bagian penting dalam perawatan.

3.6 Manfaat Pemanfaatan Botol Bekas untuk Hidroponik

Pemanfaatan botol plastik bekas untuk hidroponik memberikan beberapa manfaat:

  1. Mengurangi sampah plastik

Botol yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah dapat digunakan kembali sebagai wadah tanaman. Hal ini merupakan bentuk pemanfaatan kembali (*reuse) yang dapat membantu mengurangi jumlah sampah plastik.

  1. Menghemat lahan

Hidroponik dapat dilakukan pada pekarangan atau ruang yang terbatas sehingga sesuai untuk masyarakat yang tidak mempunyai lahan pertanian yang luas.

  1. Biaya relatif rendah

Botol bekas dapat digunakan sebagai wadah sehingga tidak selalu diperlukan pembelian wadah khusus. Sistem sumbu juga tidak membutuhkan pompa atau listrik.

  1. Meningkatkan kreativitas masyarakat.

Kegiatan pelatihan yang menggunakan botol plastik bekas dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan baru kepada masyarakat. Dalam kegiatan di Balaraja, peserta dilatih untuk berpikir kreatif, mandiri, dan peduli terhadap lingkungan.

  1. Menghasilkan tanaman yang dapat dikonsumsi

Sayuran yang dihasilkan melalui hidroponik dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan rumah tangga. Dalam kegiatan di RW 05 Jomblang, tanaman pakcoy yang berhasil tumbuh bahkan dibagikan kepada peserta.

3.7 Potensi Ekonomi dan Kewirausahaan Ramah Lingkungan

Pemanfaatan botol plastik bekas untuk hidroponik tidak hanya memiliki manfaat lingkungan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi. Jurnal tentang pemanfaatan botol plastik sebagai media tanaman sayur hidroponik menunjukkan bahwa hasil tanaman dapat dikonsumsi sendiri maupun memiliki nilai jual sehingga berpotensi memberikan tambahan pendapatan kepada masyarakat.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan ecopreneurship, yaitu kegiatan kewirausahaan yang mempertimbangkan aspek ekonomi sekaligus lingkungan. Penelitian terhadap generasi muda di Banjar Babakan Canggu menunjukkan bahwa peserta melihat hidroponik dari aspek ekologi, ekonomi, efisiensi, efektivitas, dan sosial. Mereka juga memandang hidroponik sebagai produk komersial dan peluang usaha yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Dalam diskusi penelitian tersebut, pemanfaatan lahan sempit, penggunaan botol plastik bekas, pemenuhan kebutuhan pangan, dan peluang usaha menjadi beberapa aspek yang dikaitkan dengan budidaya hidroponik.

Dengan demikian, hidroponik menggunakan botol bekas dapat dikembangkan tidak hanya sebagai aktivitas rumah tangga, tetapi juga sebagai kegiatan produktif yang menggabungkan lingkungan, pangan, kreativitas, dan ekonomi.

  1. Tantangan dalam Penerapan

Walaupun hidroponik botol bekas memiliki berbagai manfaat, penerapannya tetap membutuhkan perawatan. Sistem sumbu memerlukan pengecekan kondisi air dan kebersihan wadah secara rutin. Jika kebersihan dan kondisi nutrisi tidak diperhatikan, pertumbuhan tanaman dapat terganggu.

Selain itu, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada tersedianya botol plastik. Masyarakat perlu memperoleh pengetahuan mengenai teknik penyemaian, pemberian nutrisi, perawatan, dan pengelolaan tanaman. Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi dan praktik langsung menjadi bagian penting dalam memperkenalkan teknologi hidroponik kepada masyarakat.

IV. KESIMPULAN

Pemanfaatan botol plastik bekas sebagai media hidroponik merupakan salah satu cara kreatif untuk memberikan fungsi baru pada sampah plastik sekaligus melakukan kegiatan budidaya tanaman. Sistem hidroponik, khususnya wick system, relatif sederhana karena dapat menggunakan bahan yang mudah diperoleh dan tidak membutuhkan pompa maupun listrik.

Berdasarkan jurnal-jurnal yang dikaji, penggunaan botol bekas dalam hidroponik dapat membantu mengurangi sampah plastik, menghemat penggunaan lahan, dan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menghasilkan sayuran di lingkungan rumah. Kegiatan tersebut juga dapat meningkatkan pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Selain manfaat lingkungan dan pangan, hidroponik juga memiliki potensi ekonomi. Tanaman yang dihasilkan dapat dikonsumsi sendiri maupun dikembangkan sebagai produk yang memiliki nilai jual. Penelitian mengenai ecopreneurship menunjukkan bahwa hidroponik dapat dipandang sebagai kegiatan yang menghubungkan aspek ekologis, ekonomi, efisiensi, dan sosial.

Oleh karena itu, pemanfaatan botol plastik bekas untuk hidroponik dapat menjadi salah satu bentuk inovasi sederhana dalam mendukung pengurangan sampah plastik dan penerapan pertanian berkelanjutan di lingkungan masyarakat.

V. REFERENSI

Ambarita, D., Monica, M., Sembiring, A. M. A., & Savitri, M. D. (2021). Pemanfaatan Botol Plastik Bekas sebagai Media Tanaman Sayur Hidroponik untuk Meningkatkan Produktivitas dan Menghasilkan Nilai Jual serta Menambah Income di Masyarakat. Jurnal Abdimas Tridharma Manajemen, 3(1).

Dewi, N. P. A. P., Surata, S. P. K., & Puspawati, D. A. (2023). Persepsi Generasi Muda tentang Potensi Wirausaha Ramah Lingkungan dari Budidaya Hidroponik: Eksplorasi dengan Photovoice. Jurnal Santiaji Pendidikan, 13(2).

Putri, W. H. A., Lestari, R. D., & Wijayanti, P. D. (2024). Pemanfaatan Botol Plastik Bekas sebagai Wadah dalam Sistem Hidroponik untuk Budidaya Sayuran. Manfaat: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Indonesia, 1(3), 1–6. [https://doi.org/10.62951/manfaat.v1i3.62](https://doi.org/10.62951/manfaat.v1i3.62)

Rustomo, B. Y., Iskandar, D. F., Fernando, F., Sinambela, F. W., W., K. C., Varlet, K., Digjaya, M. B. K., Beda, S. D. P., Salvathea, V., & Sundoro, B. T. (2022). Penyuluhan Penggunaan Teknik Hidroponik Wick System dengan Media Botol Plastik Bekas sebagai Media Cocok Tanam di Desa Ngawu, Playen, Gunung Kidul. Jurnal Atma Inovasia (JAI), 2(3).

 

Share This Article
Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *