Ilusi Gaji Naik tapi Dompet Makin Tipis: Fenomena “Makan Tabungan” di Tengah Ekonomi Indonesia

Titis Putri Asih dan Eva Zulianti (Mahasiswa universitas Pamulang )

Redaksi
6 Min Read

Promo UKM | Pernahkah Anda merasa bahwa nominal gaji atau penghasilan bulanan saat inisebenarnya sudah lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun lalu, tetapi rasanya uang tersebutmenguap jauh lebih cepat? Fenomena ini bukan sekadar perasaan psikologis belaka, melainkanrealitas pahit yang sedang dirasakan oleh jutaan masyarakat Indonesia saat ini.

Di atas kertas, angka pertumbuhan ekonomi nasional tampak stabil di kisaran yang cukupmembanggakan. Namun, jika ditarik ke tingkat akar rumput dan dapur rumah tangga, dinamikaperekonomian Indonesia sedang mengalami tekanan psikologis dan finansial yang cukup unik. Mari kita bedah apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik layar perekonomian kita.

Ketika “Inflasi Riil” Terasa Jauh Lebih Kejam dari Angka Resmi

Secara makro, angka inflasi tahunan sering kali diumumkan dalam persentase yang terkendali. Namun, masyarakat jarang berbelanja “indeks harga konsumen” secara gelondongan. Masyarakat berbelanja beras, cabai, minyak goreng, membayar token listrik, dan membiayaisekolah anak.

● Fenomena Shrinkflation & Skimpflation: Tanpa disadari, banyak produk makanankemasan atau kebutuhan harian yang secara diam-diam mengurangi ukuran isinya(shrinkflation) atau menurunkan kualitas bahan bakunya (skimpflation) dengan harga yang tetap atau bahkan naik.
● Dampaknya: Secara matematis harga terlihat sama, tetapi secara nilai dan kuantitas, dayabeli masyarakat sudah terpangkas jauh sebelum mereka menyadarinya.

Kelas Menengah: Kelompok “Paling Rapuh” yang Sering Terabaikan

Jika kelompok masyarakat bawah mendapatkan perlindungan melalui berbagai jaringpengaman sosial seperti bantuan langsung tunai (BLT) atau subsidi energi, dan kelompok atasrelatif kebal terhadap gejolak harga, di manakah posisi kelas menengah?

Kelompok aspiring middle class (mereka yang baru naik kelas atau berada di ambangkemapanan) saat ini berada dalam posisi paling rentan. Mereka menanggung beban berlapis:

● Tanpa Bantalan Sosial: Tidak tersentuh subsidi langsung, tetapi harus membayar hargakeekonomian penuh untuk bahan bakar non-subsidi, tarif tol, dan layanan kesehatan.
● Biaya Hidup Perkotaan yang Agresif: Harga sewa rumah atau cicilan KPR melesat jauhmelampaui kenaikan persentase gaji tahunan rata-rata (kenaikan upah yang sering kali hanya pas-pasan).

Akibatnya, banyak dari mereka yang terpaksa “makan tabungan” (dissaving) setiap akhirbulan demi menutupi selisih antara biaya hidup dan pendapatan.

Pergeseran Gaya Hidup: Dari “Healing” Menjadi Mode Bertahan Hidup

Beberapa tahun pascapandemi, tren konsumsi masyarakat sempat diwarnai oleh balas dendambelanja (revenge spending) dan budaya healing. Namun, dalam satu-dua tahun terakhir, trentersebut berbalik 180 derajat.

Masyarakat kini jauh lebih selektif. Sektor hiburan sekunder, fesyen non-esensial, dan kulinertersier mulai ditinggalkan. Alokasi dana bergeser drastis ke arah:

1. Pengamanan dana darurat (bagi yang masih memiliki sisa ruang finansial).
2. Prioritas mutlak untuk pendidikan anak dan kesehatan.
3. Mencari sumber penghasilan tambahan (side hustle) demi menambal kebocoran anggaranbulanan.

Perilaku wait and see ini membuat sektor ritel konvensional dan pasar properti menengahmengalami perlambatan, karena konsumen lebih memilih memegang likuiditas tunai di tangan.

Cahaya di Ujung Terowongan: Adaptasi dan Peluang Baru

Kendati tantangan di depan mata terasa nyata, ekonomi Indonesia bukanlah tanpa peluang. Sifat adaptif masyarakat kita terbukti sangat tangguh:

● Ledakan Ekonomi Digital & Kreatif: Peluang usaha mikro berbasis digital memberikanruang bagi individu untuk menciptakan pasar baru tanpa modal fisik yang masif.
● Transisi Energi & Hilirisasi: Dalam skala makro, arah kebijakan hilirisasi industrimembuka babak baru transformasi ekonomi jangka panjang yang diharapkan mampumenciptakan lapangan kerja berkualitas lebih tinggi.

 Saatnya Mengatur Strategi Ulang

Perekonomian Indonesia sedang berada di fase penyesuaian yang menuntut kewaspadaantinggi—baik bagi pembuat kebijakan maupun bagi individu. Menjaga daya beli masyarakatbukan lagi sekadar soal mengontrol harga barang di pasar, tetapi tentang bagaimana merancangmasa depan di mana kelas menengah tidak tergerus habis oleh inflasi biaya hidup.

Bagi kita sebagai individu, era ini mengajarkan satu hal mutlak: literasi keuangan dan fleksibilitas mental untuk terus belajar mengelola ketidakpastian adalah mata uang paling berharga hari ini.

Sumber Data

•  Badan Pusat Statistik (BPS): Data berkala Indeks Harga Konsumen (IHK) dan inflasikelompok bahan makanan (volatile food). Akses informasi: Badan Pusat Statistik (BPS)

•  Bank Indonesia (BI): Laporan asesmen perekonomian domestik serta rilis data bulananSurvei Konsumen terkait keyakinan konsumen dan rasio tabungan terhadap pendapatan. Akses informasi: Bank Indonesia

•  World Bank (Bank Dunia): Laporan rutin Indonesia Economic Prospects (IEP) yang mengkaji struktur kelas sosial dan kerentanan kelas menengah di Indonesia. Akses informasi: World Bank – Indonesia Economic Prospects

•  Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI): Kajian kebijakanpublik mengenai dinamika pengeluaran rumah tangga dan tren dissaving pekerja perkotaan. Akses informasi: LPEM FEB UI

•  Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia: Kebijakan strategisnasional, hilirisasi industri, serta penguatan sektor UMKM dan ekonomi digital. Akses informasi: Kemenko Perekonomian RI

Share This Article
Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *