Promoukm.com | Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, termasuk dalam lingkungan organisasi. Saat ini berbagai informasi dapat disampaikan dengan cepat melalui aplikasi seperti WhatsApp, Telegram, instagram, maupun platform komunikasi lainnya. Dalam organisasi mahasiswa, komunikasi digital bahkan menjadi sarana utama untuk melakukan koordinasi, membagikan informasi, menyampaikan tugas, hingga mengambil keputusan. Kehadiran teknologi tersebut tentu memberikan banyak kemudahan karena anggota organisasi tidak perlu selalu bertemu secara langsung untuk berkomunikasi.
Namun, kemudahan komunikasi digital ternyata tidak selalu membuat komunikasi menjadi lebih efektif. Salah satu fenomena yang sering terjadi adalah ketika pesan sudah dibaca oleh anggota organisasi tetapi isi pesan tersebut tidak benar-benar dipahami. Akibatnya masih banyak anggota yang salah memahami instruksi, terlambat mengerjakan tugas, atau bahkan mengabaikan informasi penting yang sebenarnya telah disampaikan sebelumnya. Fenomena ini sering dianggap sebagai masalah kecil, padahal dampaknya dapat memengaruhi kinerja dan keberhasilan suatu organisasi.
Dalam kehidupan organisasi mahasiswa, situasi seperti ini sering kali terjadi. Misalnya, seorang ketua panitia telah mengirimkan informasi mengenai jadwal rapat, pembagian tugas, atau tenggat waktu pengumpulan laporan melalui grup WhatsApp. Secara teknis, pesan tersebut sudah diterima dan dibaca oleh anggota. Namun, pada kenyataannya masih ada anggota yang datang terlambat, lupa mengerjakan tugas, atau bahkan bertanya kembali mengenai informasi yang sudah dijelaskan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa proses komunikasi belum berjalan secara efektif.
Masalah utama dalam komunikasi digital saat ini bukan terletak pada sulitnya menyampaikan informasi, melainkan pada bagaimana informasi tersebut dipahami oleh penerima pesan. Banyak orang menganggap bahwa komunikasi sudah berhasil ketika pesan telah terkirim dan dibaca. Padahal, membaca pesan tidak selalu berarti memahami isi dan maksud dari pesan tersebut. Sering kali seseorang hanya membaca sekilas karena sedang sibuk, kurang fokus, atau terlalu banyak informasi yang diterima dalam waktu yang bersamaan.
Selain itu, komunikasi digital juga memiliki keterbatasan dibandingkan komunikasi tatap muka. Dalam komunikasi langsung, seseorang dapat melihat ekspresi wajah, nada bicara, serta bahasa tubuh lawan bicara sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami. Sebaliknya, komunikasi melalui pesan teks sering kali hanya mengandalkan tulisan sehingga berpotensi menimbulkan perbedaan penafsiran. Pesan yang sebenarnya sederhana dapat dipahami secara berbeda oleh setiap anggota organisasi.
Semakin sering terjadi juga di karenakan budaya komunikasi yang serba cepat. Saat ini, banyak mahasiswa tergabung dalam berbagai grup komunikasi sekaligus, mulai dari grup kelas, organisasi, kepanitiaan, hingga grup pertemanan. Banyaknya pesan yang masuk setiap hari membuat seseorang cenderung membaca informasi secara cepat tanpa memperhatikan detail yang ada. Akibatnya, informasi penting dapat terlewat begitu saja meskipun status pesan menunjukkan bahwa pesan tersebut telah dibaca.
Jika dikaitkan dengan Teori Komunikasi-Kewenangan yang dikemukakan oleh Chester Barnard, keberhasilan suatu organisasi sangat bergantung pada kemampuan anggota dalam memahami pesan yang disampaikan oleh pihak yang memiliki kewenangan. Barnard menjelaskan bahwa suatu pesan dapat berjalan efektif apabila dipahami oleh penerimanya, sesuai dengan tujuan organisasi, dan mampu dilaksanakan oleh anggota yang menerima pesan tersebut. Dengan kata lain, komunikasi tidak berhenti pada proses penyampaian informasi, tetapi harus sampai pada tahap pemahaman dan pelaksanaan pesan oleh anggota organisasi. Oleh karena itu, ketika pesan hanya dibaca tanpa dipahami, tujuan komunikasi belum sepenuhnya tercapai.
Kurangnya pemahaman terhadap pesan juga dapat menghambat koordinasi antaranggota organisasi. Setiap anggota memiliki tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan satu sama lain. Ketika ada anggota yang salah memahami informasi, maka pekerjaan anggota lain juga dapat ikut terganggu. Akibatnya, proses kerja menjadi kurang efektif dan target organisasi menjadi lebih sulit untuk dicapai.
Untuk mengatasi masalah tersebut, organisasi perlu membangun budaya komunikasi yang lebih baik. Pengirim pesan harus menyampaikan informasi dengan bahasa yang jelas, singkat, dan mudah dipahami. Informasi penting juga sebaiknya disampaikan kembali melalui pengingat atau konfirmasi agar tidak terlewat oleh anggota. Di sisi lain, anggota organisasi juga harus memiliki kesadaran untuk membaca informasi dengan teliti serta berani bertanya apabila terdapat hal yang belum dipahami. Komunikasi yang baik membutuhkan peran aktif dari kedua belah pihak, baik pengirim maupun penerima pesan.
Terlihaat bahwa kemajuan teknologi memang memberikan kemudahan dalam proses komunikasi organisasi. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu menjamin bahwa komunikasi berjalan secara efektif. Fenomena pesan yang sudah dibaca tetapi tidak dipahami masih sering terjadi dalam organisasi, terutama di lingkungan mahasiswa yang sangat bergantung pada komunikasi digital. Akibatnya, muncul berbagai masalah seperti kesalahpahaman, kurangnya koordinasi, dan keterlambatan dalam pelaksanaan tugas.
Oleh karena itu, setiap anggota organisasi perlu memahami bahwa komunikasi yang efektif bukan hanya tentang menyampaikan atau membaca pesan, tetapi juga memastikan bahwa pesan tersebut benar-benar dipahami dan dapat dilaksanakan dengan baik. Dengan komunikasi yang lebih efektif, koordinasi antaranggota akan berjalan lebih lancar sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara maksimal.[]
